Total Tayangan Halaman

Selasa, 31 Oktober 2017

MAKALAH PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Pengembangan manusia seutuhnya tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan kegagalan dijumpai dalam upaya pengembangan tersebut. Sumber-sumber rintangan dan kegagalan tersebut ada yang berasal dari sifat-sifat manusia yang kadang sudah melampaui batas, kekurangan sosial dan individual, keleahan prasarana upaya, dan hubungan yang kurang serasi antara manusia dan lingkungannya. Apabila masalah ini dibiarkan berlarut- larut akan membawa dampak negatif bagi manusia dan lingkungannya.
            Pendidikan yang pada dasarnya mengupayakan mengupayakan pengembangan manusia seutuhnya serta terhindar dari berbagai sumber rintangan dan kegagalan tersebut perlu diselenggarakan secara luas dan mendalam mencakup segenap segi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Pengajaran di kelas-kelas saja tidak cukup memadai untuk menjawab tuntutan penyelenggaraan pendidikan yang luas dan mendalam itu.
            Tugas guru dalam mendidik dan membimbing para murid kini kian menuntut pemahaman mendalam akan peserta didiknya, makan pembelajaran, proses dan strategi serta penilaian pembelajaran. Bidang-bidang itulah yang menjadi fokus bahasan serta kajian psikologi pendidikan tersebut dialirkan secara sistematis. Perlakuan terhadap peserta didik harus selaras dengan hakikat perkembangan. Prinsip perkembangan bermakna perubahan yang harus ada  dan tercapai pada setia fase perkembangan.
Tujuan
          Tujuan penulisan book report ini adalah untuk mencari inti dari buku Psikologi Pendidikanini. Selain itu penulis membuat critical book report ini untuk mencari kelebihan dan kelemahan yang dimiliki buku ini
            Tujuan lain dari penulisan critical book report ini adalah untuk memenuhi tagihan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Manfaat
          Manfaat dari penulisan critical book report ini adalah agar memahami buku Psikologi Pendidikan ini menjadi lebih mudah dengan adanya ringkasan buku yang dibuat. Critical book report ini juga bermanfaat agar pembaca mengetahui kualitas dari buku ini karena disini penulis akan memberikan pendapatnya mengenai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki buku ini.



BAB II
Isi Buku
Identitas Buku
Judul                           : Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif
Penulis                         : Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib
Penerbit                       : Kencana
Tebal Buku                  : 318 halaman
Isi Buku Teks
Buku teks terdiri dari :
1.              Sampul berwarna hitam dengan latar berwarna putih
2.              Halaman Judul
3.             Lembaran yang menerangkan: tahun terbit, penerbit, kutipan pernyataan hak akan   kekayaan Intelektual, dan Nomor ISBN.
4.              Kata pengantar
5.              Daftar Isi
6.              Bab I               : Pendahuluan
7.              Bab II              : Perkembangan Individu
8.              Bab III                        : Perkembangan Remaja
9.              Bab IV                        : Pemberdayaan Kearifan Lokal dalam PAUD
10.          Bab V              : Analisis Sosiokultural Vygotsky dalam Psikologi Pendidikan
11.          Bab VI                        : Kontrol Diri dan Kematangan Emosional
12.          Bab VII           : Konsep Diri dan Upaya Pengembangannya
13.          Bab VIII         : Keterampilan Komunikasi Didik dan Implikasinya di Pembelajaran
14.          Bab IX                        : Keterampilan Sosial Dan Upaya Pengembangannya
15.          Bab X              : Persepsi Interpersonal: Dasar Psikologis Perilaku Sosial
16.          Bab XI                        : Perilaku Kekerasan dan Softskills
17.          Bab XII           : Studi Meta-Analisis Atribusi Personal Dan perilaku Agresi
18.          Bab XIII         : Pengembangan Kapital Intelektual dan Sosial
19.          Bab XIV         : Siswa Berkebutuhan Khusus dan Perilaku Menyimpang
20.          Bab XV           : Profesionalisme Guru: Masalah dan Upaya Pengembangannya
21.          Bab XVI         : Teknik Penyusunan Skala Pengukuran



Ringkasan Isi buku
BAB I
PENDAHULUAN
            Psikologi mengandung pengertian studi tentang proses mental dan perilaku atau studi mengenai fenomena persepsi, kognisi, emosi, kepribadian, perilaku dan hubungan interpersonal. Psikologi juga mengacu pada aplikasi pengetahuan berbagai aktivitas manusia, mencakup isu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Secara lebih luas, psikologi mengandung pengertian usaha untuk memahami peran individu dan perilaku sosial, termasuk pengembangan manusia, olahraga, kesehatan, industri, media, dan hukum.
            Secara konseptual psikologi bertujuan mendeskripsikan, menjelaskan dan mengontrol perilaku manusia. Mengadakan deskripsi berarti menggambarkan secara jelas fenomena, mendeskripsikan berarti menggambarkan secara jelas fenomena, dan membuat prediksi berarti melakukan estimasi mengenai peristiwa yang mungkin muncul dan fungsi kontrol berarti mengendalikan atau mengatur fenomena.
            Psikologi pendidikan adalah disiplin vital atau hal penting yang memberikan kontribusi terhadap pendidikan dalam memahami makna pembelajaran, peserta didik, proses belajar, strategi pembelajaran dan asssesment pembelajaran. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa persoalan psikologis yang menjadi fokus utama dalam psikologi pendidikan adalah peserta didik, yakni sifat-sifat psikologis yang ada pada peserta didik dalam proses pembelajaran.
            Psikologi pendidikan berupaya meletakkan dasar-dasar kepribadian berdasar pada konsep kematangan, perbedaan individual, hereditas dan faktor lingkungan termasuk lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. atribut-atribut psikologis berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya, termasuk perkembangan kepribadian, intelegensi, bakat, prestasi, temperamen, konsep diri, kontrol diri, percaya diri, dan harga diri.
            Pendidikan tidak hanya bertujuan mengantarkan peserta didik ke arah kedewasaan melainkan juga pencapaian perilaku yang lebih luas dan lebih banyak kemungkinannya. Psikologi pendidikan berfungsi sebagai alat bantu untuk menciptakan kehidupan yang sehat, damai, dan sejahtera.
BAB II
PERKEMBANGAN INDIVIDU
            Teori-teori yang menjelaskan perbekmbangan antara lain yakni, Teori Psikodiamika Sigmund Freud yang dikenal dengan teori psikoanalitik, ia memandang bahwa seorang anak yang dilahirkan memiliki dua kekuatan yakni libido dan nafsu mati. Struktur anak pada waktu dilahirkan adalah das es yang mendorong anak memuaskan nafsunya, das ich yang berfungsi sebagai penentu dirinya dan das uber ich yang berfungsi mengatur perilaku das ich.
            Teori yang menekankan faktor biologis menitikberatkan pengaruh faktor bawaan termasuk bakat atau keadaan psikofisik yang dibawa sejak lahir. Perkembangan bersifat endogen, artinya perkembangan itu tidak hanya spontan saja melainkan juga harus dimengerti sebagai pemekaran predisposisi yang ditentukan secara biologis.
            Konsep lingkungan adalah kelompok konsep yang mementingkan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak, termasuk konsep belajar dan konsep mengenai sosialisasi yang bersifat sosiologis. Konsep belajar memandang belajar sebagai suatu bentuk perubahan atas perilaku seseorang dalam disposisi atau potensi yang bersifat relatif tetap.
            Teori interaksionisme sering pula disebut teori perkembangan kognitif Piaget. Menurutnya perkembangan adalah suatu proses perubahan sebagai hasil dari proes belajar yang merupakan kombinasi  dari pembelajaran, pengalaman, dan kematangan. Konsep ini mementingkan perkembangan intelektual. Teori ini juga menekankan pentingnya interaksi resiprokal sebagai penentu perilaku kekerasan.
            Tahap-tahap perkembangan yakni, perkembangan masa bayi(0-1 thn) yakni timbul kepercayaan vs ketidakpercayaan. Kedua perkembangan prasekolah(2-6 thn) yakni antara otonomi vs keragu-raguan. Ketiga perkembangan masa kanak-kanak(2-6thn) yakni antara inisiatif dan rasa bersalah. Keempat perkembangan masa sekolah(6-12 thn) yakni antara kompetensi dan rendah diri. Kelima perkembangan pada masa remaja(12-18 thn) yakni antara identitas dan kebingungan. Keenam masa dewasa(19-40 thn) yakni antara keintiman dan isolasi. Ketujuh tahap masa dewasa pertengahan(40-65 thn) yakni antara kebangkitan dan staknasi. Kedelapan masa dewasa akhir( >65 thn) yakni antara integritas dan rasa bersalah.
            Pakar psikologi Indonesia Nuryoto menggolongkan fase-fase kehidupan manusia atas 3 kategori utama yakni : masa progresif yaitu dimana individu bertumbuh secara fisik, psikis, sosial ke arah yang sempurna. Masa statis individu telah mencapai kematangan perkembangan secara menyeluruh dan sempurna. Kondisi yang dimiliki itu akan dipertahankan hingga fase berikutnya. Selanjutnya masa regresif yaitu sesorang mengalami kemunduran khususnya fisik.
          Berdasar tahap perkembangan pencapaian tugas perkembangan masa bayi merupakan kesuksesan dan kebahagian hidup pada masa itu, bahkan menjadi basis kesuksesan pencapaian yugas perkembangan selanjutnya, begitu pula sebaliknya.
BAB III
PERKEMBANGAN REMAJA
            Masa remaja merupakan salah satu masa perkembangan yang dialami manusia dalam hidupnya dan masa remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Beberapa ahli mempunyai pendapat yang berbeda mengenai kapan masa remaja itu berlangsung, karena memang perkembangan manusia itu bersifat individual. Pada masa transisi remaja dalam kondisi tidak stabi. Ada perasaan tidak aman karena harus mengganti atau mengubah pola tingkah laku anak-anak ke dewasa. Emosi yang tidak stabil dapat mendatangkan perasaan tidak bahagia.
            Perubahan fisik sudah dimulai pada masa praremaja dan terjadi secara cepat pada remaja awal yang akan makin sempurna pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Penyimpangan yang mungkin terjadi pada proses kematangan seksual yang dialami remaja adalah jika terlalu awal atau terlalu lambat. Kematangan fisik remaja perempuan biasanya lebih cepat dari laki-laki. Intensitas kebutuhan remaja bersifat individual artinya tidak sama persis antara individu satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan kondisi pribadi berbeda, dan lingkungan yang berlainan.
            Piaget menjelaskan bahwa selama tahap operasi formal yang terjadi sekitar 11-15 tahun, seorang anak mengalami perkembangan penalaran dan kemampuan berfikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya berdasar pengalaman langsung. Struktur kognitif anak mencapai kematangan pada tahap ini. Potensi kualitas penalaran dan berpikir berkembang secara maksimum.
            Emosi merupakan salah satu aspek psikologis manusia dalam ranah afektif. Pada masa remaja ekspresi emosi yang tampak kadang-kadang tidak menggambarkan kondisi emosi yang sebenarnya. Ekspresi emosi sifatnya sangat individual atau subjektif, tergantung pada kondisi pribadi masing-masing orang. Emosi yang menonjol pada remaja termasuk khawatir, cemas, jengkel, frustasi, cemburu, iri, rasa ingin tau, dan afeksi atau rasa kasih sayang dan perasaan bahagia..
            Perkembangan moral dimulai dengan tahap prakonvensional yang tahap pertamanya orientasi hukuman, kedua orientasi instrumental. Tahap konvensional yang dimulai dengan tahap ketiga orientasi hubungan interpersonal dan tahap keempat orientasi hukum dan aturan. Selanjutnya tahap postkonvensional yang dimulai dengan tahap kelima orientasi kontrak sosial dan tahap keenam orientasi prinsip etika universal. Proses perkembangan moral remaja secara gradual mengalami perubahan dari perkembangan yang lebih otoriter menjadi kurang otoriter seiring dengan perkembangan aspek kognitif dan kepribadian.
            Secara umum perkembangan sosial merupakan ekspresi dari kondisi fisik dan psikis individu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada waktu mulai merenggangnya ikatan-ikatan keluarga para remaja juga membina identifikasi yang lebih besar dengan orang-orang lain dari kelompok umur yang sama. Meningkatnya waktu yang digunakan remaja untuk berinteraksi dengan teman sebaya adalah berkaitan dengan aktivitas atau perkembangan sikap yang kadang-kadang kontras dengan orang tua.

BAB IV
PEMBERDAYAAN KEARIFAN LOKAL DALAM PAUD
            Usia dini (0-6 th)merupakan masa penting dalam pembentukan pribadi seorang anak, baik dari segi intelektual, kepribadian, kesehatan, maupun dari segi psikososialnya. Perkembangan yang baik ditentukan oleh beberapa aspek di antaranya adalah adanya dukungan kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial. Keluarga merupakan pendukung utama nilai-nilai kearifan lokal terutama dalam pengasuhan anak.
            Pengasuhan orang tua sebagai proses interaktif anata-anggota keluarga, berhubungan dengan keterampilan dalam menerapkan pengawasan penggunaan disiplin dan hukuman yang efektif, pemberian dorongan atau penguatan yang mendukung perkembangan keterampilan prososial dan keterampilan pemecahan masalah. Penggunaan hukuman dan disiplin secara konsisten serta bantuan pemecahan masalah merupakan aspek penting dalam proses pembimbingan dan pengasuhan.
            Keluarga adalah pendukung nilai-nilai kearifan lokal terutama dalam pengasuhan anak karena anak merupakan pusat perhtian keluarga bahkan semenjak masih dalam kandungan. Secara eksplisit perbedaan statu sosial ekonomi, rasial, kelompok etnis dan lingkungan budaya secara umum mempengaruhi praktek pengasuhan.
            Pandangan responden tentang anak ideal cukup bervariasi sebagian besar mengatakan bahwa anak ideal dari aspek pendidikan adalah anak yang mempunyai tingkat pendidikan yang memadai atau harus menempuh pendidikan formal serta harus dibina mulai dari umur 0-6 tahun dan 6-12 tahun.
            Untuk mewujudkan agar anak menjadi yang ideal maka masyarakat mengajarkan atau mengasuh anak dengan cara yang sudah berlangsung secara turun menurun yaitu dengan terlebih dahulu mengajarkan kepada anaknya tentang sopan santun dari segi tutur kata maupun sikap dan perilaku. Ibu lebih berperan dalam pengasuhan anak karena ibu yang lebih banyak dirumah dan memang ibu yang berhak mengasuh anak.
            Cara menanamkan disiplin terhadap anak dilakukan dengan cara yang bervariasi ada yang otoriter bahkan dengan tindakan keras , ada yang demokratis terutama orang tua yang telah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, disamping itu orang tua menanamkan kedisiplinan terhadap anak melalui sikap keteladanan, dan memberi hadiah bila berprestasi
BAB V
ANALISIS SOSIOKULTURAL VYGOTSKY DALAM PERSEPKTIF PSIKOLOGI PENDIDIKAN
            Menurut Vygotsky interaksi sosial merupakan landasan terjadinya perkembangan kognitif. Di samping itu perkembangan biologis dan kultural tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kognitif anak.konsep dasar teori kognitif mengacu pada tingkat aktivitas mental yang tidak dapat diubah begitu saja dalam menjelaskan tindakan sosial dengan postulat yang sesungguhnya, seperti persepsi, pikiran, intensi, perencanaan, keterampilan dan perasaan. Vygotsky percaya bahwa perkembangan adaah suatu proses yang harus dianalisis sebagai suatu produk yang akan dicapai. Vygotsky percaya bahwa hidup merindukan proses perkembangan dan hal ini sangat tergantung pada interaksi sosial dan belajar sosial itu secara aktual berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
            Vygotsky menyatakan bahwa setiap fungsi perkembangan budaya berpengaruh terhadap perkembangan anak pada level sosil dan individual. Aspek kedua dar teori Vygotsky adalah gagasan bahwa secara potensial perkembangan kognitif anak terbatas pada suatu rentang waktu tertentu yang disebut wilayah perkembangan proksimal. Menurut pandangan Vygotsky interaksi dengan teman sebaya, perancah, dan modeling merupakan faktor penting yang memfasilitasi perkembangan kognitif dan pemerolehan pengetahuan individu, termasuk dalam perkembangan bahasa.
            Scaffolding berarti pemberian bantuan dan bimbingan kepada anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian anak mengambil alih tanggung jawab yang lebih besar setelah ia melakukannya. Teori Sosiokultural Vygotsky menekankan pentingnya perkembangan kecerdasan/intelegensi melalui kultur atu masyarakat.
            Menurut Vygotsky bahasa berperan penting dalam perkembangan kognitif. Perkembangan bahasa meliputi empat tahap yaitu tahap pra-linguistik, psikologi naif, bahasa egosentrik, dan bahasa internal. Ia yakin bahwa manusia mempunyai kemampuan dasar inborn ability yang potensial untuk perkembangan bahasa dan kemudian berinteraksi dengan lingkungan. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi peluang bagi anak untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
            Teory Vygotsky berfokus pada 4 hal pokok yakni pengaruh interaksi sosial dalam perkembangan, scaffolding( perancah atau pemberian bantuan), modeling, zone of proximal development( perbedaan antara apa yang dapat dikerjakan sendiri oleh anak dan apa yang dapat dikerjakan dengan bantuan orang lain). Pembelajaran kooperatif berdasar teori sosiokultural Vygotsky diharapkan memberikan kontribusi dalam perkembangan bahasa dan kepribadian anak.
BAB VI
KONTROL DIRI DAN KEMATANGAN EMOSIONAL
            Kontrol diri menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitif untuk mengontrol perilaku guna meningkatkan hasil dan tujuan tertentu, sebagaimana yang diinginkan. Kontrol diri berkaitan erat pula dengan keterampilan emosional. Bahkan kontrol diri merupakan salah satu komponen keterampilan emosional. Keterampilan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki sesorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur perasaan.
            Keterampilan emosi memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar selanjtnya mampu menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Secara singkat keterampilan emosional mencakup tiga unsur penting yaitu kecakapan pribadi, keterampilan interpersonal, dan keterampilan sosial.
            Aspek-aspek kontrol diri yitu, mengontrol perilaku untuk memodifikasi keadaan yang tidak menyenangkan terdiri dari dua komponen yakni kemampuan mengatur pelaksanaan dan kemampuan mengatur stimulus. Mengontrol kognitif yaitu cara seseorang dalam menafsirkan, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif, terdiri dari dua komponen yakni kemampuan memperoleh informasi dan melakukan penilaian. Mengontrol keputusan merupakan kemampuan individu untuk memilih dan menentukan tujuan yang diinginkan.
            Dapat disimpulkan kemampuan mengontrol diri mencakup: kemampuan mengontrol perilaku, kemampuan mengontrol stimulus, kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa, kemampuan menafsirkan peristiwa dan kemampuan mengambil keputusan.
            Secara umum strategi untuk memaksimalkan kontrol diri adalah membuat atau memodifikasi lingkungan  menjadi responsif atau menunjang tujuan yang diinginkan indivisu, memperbanyak informasi dan kemampuan untuk menghadapi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan menggunakan secara efektif kebebasan memilih dalam pengaturan lingkungan.
BAB VII
KONSEP DIRI DAN PENGEMBANGANNYA
            Secara luas konsep diri dirumuskan sebagai skema kognitif atau pandangan dan penilaian tentang diri sendiri yang mencakup atribut-atribut spesifik yang terdiri atas komponen pengetahuan dan komponen evaluatif. Konsep diri merupakan filter dan mekanisme yang mewarnai pengalaman keseharian. Siswa yang menunjukkan konep diri yang rendah atau negatif akan memandang dunia sekitarnya positif, demikian pula sebaliknya.
            Aspek-aspek konsep diri dibedakan menjadi konsep diri akademis dan konsep diri non-akademis dibedakan lagi menjadi konsep diri sosial dan penampilan diri. Konsep diri sebagai gambaran atau pengetahuan tentang diri sendiri mencakup diri jasmaniah, diri sosial, dan diri spiritual.
            Berdasarkan telaah deskriptif dan analisis empiris mengenai konsep diri dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi konsep diri siswa mencakup faktor keadaan fisik dan penilaian orang lain mengenai fisik individu. Faktor keluarga termasuk pengasuhan orang tua, pengalaman periaku kekerasan, sikap saudara, dan status sosial ekonomi, dan faktor lingkungan sekolah.
            Siswa yang memiliki konsep diri positif akan memandang dirinya secara secara positif, penuh percaya diri dan tidak mudah melakukan tindakan-tindakan destruktif terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Sebaliknya siswa yang memiliki konsep diri negatif akan memandang dirinya sebagai orang yang tidak berhasil, mudah mengganggu orang lain dan melakukan tindakan destruktif.




BAB VIII
KETERAMPILAN KOMUNIKASI DIADIK DAN IMPLIMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN
            Komunikasi diadik merupakan salah satu bentuk komunikasi yang terjadi antara dua individu yang sudah saling mengenal maupun yang belum saling mengenal. Komunikasi Diadik merupakan suatu bentuk komunikasi interpersonal yang terjadi antara dua individu yang menunjukkan adanya saling keterikatan atau hubungan antara satu dengan yang lainnya. Secara singkat disimpulkan bahwa komunikasi diadik adalah salah satu bentuk komunikasi yang melibatkan saling hubungan antara dua orang yang bersifat interpendensi antara satu dengan yang lainnya dalam proses komunikasi. Komunikasi diadik merupakan titik sentral dalam hubungan interpersonal atau interaksi sosial.
            Komunikasi berlangsung dari tahap kebersamaan hingga tercipta hubungan yang akrab. Pada taham akhir topik pembicaraan dan aktivitas semakin bervariasi dan saling pengaruh menjadi semakin kuat yang ditandai dengan hubungan emosional yang mendalam. Proses komunikasi interpersonal maupun komunikasi diadik menunjukkan adanya saling keterkaitan antara unsur penerima, pengirim, pesan, penghubung dan pengaruh.
            Faktor yang menjadi penentu keterampilan komunikasi diadik yakni faktor internal yang dominan memengaruhi komunikasi diadik adalah kemampuan personal dalam menyampaikan pesan. Selain faktor situasional kemampuan komunikasi juga memerlukan penyesuaian dengan kultur suatu masyarakat. kemampuan personal menggambarkan pula kemampuan memersepsi suatu stimulus. Faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar berupa faktor sosial dan situasional. Paling tidak ada tiga faktor sosial yang memengaruhi komunikasi yaitu: penampilan fisik, faktor kesamaan, dan penilaian timbal balik.Faktor temporal atau saat berlangsngnya komunikasi dan keadaan lingkungan sekitar merupakan faktor situasional yang menentukan efektifitas komunikasi diadik.
            Proses belajar mengajar yang efektif menuntut keterampilan komunikasi diadik yang efektif pula. Adapun teknik-teknik yang mendukung komunikasi yaitu, pengirim dan penerima pesan, saluran jomunikasi dan kemampuan personal. Untuk memahami situasi diadik keterampilan membuka percakapan dan bertanya sangat penting terutama dalam mengawali suatu pembicaraan.
            Keterampilan membuat paraphrase membutuhkan kemampuan untuk mengungkap perasaan dan ucapan siswa serta mengungkapkannya kembali dengan kata-kata sendiri secara singkat. Tujuannya adalah mengungkapkan kepada siswa esensi yang telah dikemukakannya. Merefleksi perasaan berarti menyampaikan kepada siswa apa yang kita pahami mengenai perasaannya, hal ini dapat memberi penguatan dan penghargaan untuk siswa. Serta membantu siswa lebih memahami perasaannya. Keterampilan konfrontasi adalah keterampilan komunikasi antarpersonal yang menunjukkan secara terus terang dan langsung kepada siswa bahwa apa yang dikemukakannya tentang dirinya sendiri tidak sesuai dengan apa yang kita lihat dalam kenyataan sebenarnya.
BAB IX
KETERAMPILAN SOSIAL DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA
            Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting ketika anak sudah menginjak masa remaja karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas di mana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, dll.
            Keterampilan sosial itu memuat aspek-aspek keterampilan untuk hidup  dan bekerja sama, keterampilan untuk mengontrol diri dan orang lain, keterampilan untuk saling berinteraksi satu sama lain, saling bertukar pikiran dan pengalaman hingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi setiap anggota dari kelompok tersebut.
            Secara singkat dapat dikemukakan bahwa keterampilan sosial siswa bisa berkembang baik jika, interaksi atau individu dalam suatu kelompok lancar dan suasana dalam kelompok adalah suasana yang menyenangkan.
            Seseorang memiliki keterampilan sosial yang tinggi apabila dalam dirinya memiliki keterampilan sosial yang terdiri dari sejumlah sikap termasuk, kesadaran situasional dan sosial, kecakapan ide, efektivitas, dan pengaruh kuat dalam melakukan komunikasi dengan orang atau kelompok lain, berkembangnya sikap empati atau kemampuan individu melakukan hubungan dengan orang lain pada tingkat yang lebih personal, dan terampil berinteraksi.
BAB X
PERSEPSI INTERPERSONAL: DASAR PSIKOLOGIS PERILAKU SOSIAL
             Persepsi interpersonal adalah tespons terhadap stimulus sehingga terbentuk suatu kesan yang berfungsi mengatur dan mempermudah hubungan sosial. Proses persepsi interpersonal ini melibatkan keseluruhan aspek pribadi seperti: pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman, dan situasi sosial yang melatarbelakangi stimulus.
            Proses terbentuknya persepsi interpersonal berawal dari observasi seseorang baik terhadap situasi maupun perilaku. Kemudian terjadi proses atribusi dan disposisi atau pengaturan dan pengintegrasian seluruh faktor yang berperan dalam persepsi secara terintegrasi sehingga membentuk suatu kesan terhadap objk persepsi. Kemuan timbul bias persepsi yang terjadi terutama kesan yang timbul secara langsung melalui penilaian sesaat. Selanjtnya faktor-faktor personal seperti karakteristik pribadi, pengalaman, hubungan personal sebelumnya, motif-motif, serta faktor situasional sangat berperan dalam persepsi interpersonal.
            Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi interpersonal adalah pertama faktor fisik dan psikologis seperti kesan dari penampilan fisik, prasaan, suasana hati, emosi dan informasi non-verbal merupakan faktor penting memersepsi. Kedua, latar belakang kepribadian yang ada dibalik penampilan fisik seseorang seperi sifat, motif-motif, dan kecendrungan atau minat seseorang.
            Perilaku seseorang sering kali relevan untuk dijelaskan melalui penelaahan deskriptif terhadap persepsi interpersonal dalam hubungan sosial. Sangat bermanfaat untuk menghindari terjadinya kekeliruan atau kesalahan persepsi, apalagi menyangkut penyederhanaan kesimpulan terhadap orang lain. Masalah yang sering dihubungkan dengan kesalahan persepsi interpersonal adalah sterotip dan dampak gema.
            Dampak negatif persepsi yang termuat dalam sterotip adalah perlakuan kepada orang lain oleh seorang individu kedalam suatu klasifikasi yang bersifat sempit. Dampak gema dalam lingkup psikologi komunikasi merupakan suatu kesimpulan tentang kesan umum individu terhadap ciri-ciri orang lain pada suatu peristiwa yang secara logis. Konsep psikologis mengenai interpersonal sebagai dasar komunikasi dan perilaku sosial telah dikembangkan dalam teori atribusi dan atraksi interpersonal. Atribusi adalah kesimpulan yang buat untuk menerangkan penyebab perilaku.
BAB XI
PERILAKU KEKERASAN DAN SOFT SKILLS: APLIKASI PSIKOLOGI ISLAMI DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN MENTAL
            Psikologi islami merupakan suatu gerakan islamisasi psikologi dengan landasan dan orientasi nilai-nilai islami. Psikologi islami berorientasi pada citra manusia menurut ajaran islam. Kesehatan mental atau kesejahteraan subjektif yang merupakan evaluasi secara kognitif dan afektif terhadap kehidupan manusia, sebagaimana dikemukakan oleh Diener bahwa kesejahteraan subjektif dapat diklasifikasikan atas da komponen yang saling berhubungan, aspek kognitif yang berupa kepuasan hidup dan aspek afektif.
            Perilaku kekerasan mengandung resiko bahaya dan kerugian bagi orang lain maupun pelaku kekerasan. Perilaku kekerasan sebagai bentuk perilaku yang dapat merugikan orang lain seperti luka fisik, psikologis, dan sosial. Lystad membedakan kekerasan dalam 4 jenis yakni, kekerasan instrumental, kekerasan ekspresif, kekerasan, secara kultural, dan kekerasan nonkultural. Selanjutnya Dipenegoro menjelaskan berbagai bentuk perilaku kekerasan yaitu, mengolok-olok orang lain, mencela, memanggil orang lain denga gelar yang tidak disukai,berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan bergunjing.
            Softskills adalah kemampuan yang dimiliki seseorang  yang tidak bersifat kognitif tetapi lebih bersikap afektif yang memudahkan seseorang untuk mengerti kondisi sikologis diri sendiri, mengatur ucapan, pikiran, dan sikap serta perbuatan yang sesuai dengan norma masyarakat , berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Swiderski menjelaskan bahwa softsills terdiri atas tiga faktor utama yaitu kemampuan psikologis, kemampuan sosial, dan kemampuan komunikasi.
            Selanjutnya dijelaskan bahwa ada 4 klaster utama pembentuk softskills siswa yaitu: interaksi yang meliputi kesadaran `bersikap, keampuan mengatasi konflik,dll. Manjaemen pribadi yaitu kemampuan membuat keputusan, kemauan belajar,dll. Kemampuan berkomunikasi dan kemampuan mengorganisasi segala sesuatu.
BAB XII
STUDI META-ANALISIS ATRIBUSI PERSONAL DAN PENGALAMAN PERILAKU AGRESI
            Perilaku agresif didefenisikan sebagai perilaku yang secara aktual menimbulkan dampak negatif baik secara fisik, psikis, sosial, integritas pribadi, objek atau lingkungan. Secara umum perilaku agresif disebakan oleh faktor personal dan sosial. Pendekatan atribusi personal beranggapan bahwa terdapat perilaku yang bersifat khas pada setiap individu bahkan dapat diwariskan orang tua melalui gen.
            Ada 3 pendekatan dalam penelitian genetika perilaku yaitu, pendekatan melalui insting, perkawinan antar keturunan untuk mempertahankan gen yang ada dan pendekatan atribut atau karakteristik yang khas pada manusia. Miller menjawab masalah lingkungan dan mengajukan empat alasan pentingnya faktor tersebut bagi agresivitas yaitu tekanan lingkungan menyebabkan ketegangan timbul, tekan lingkungan menyebabkan rangsangan terlalu banyak tekanan-tekanan bercampur dengan perilaku menimbulkan frustasi, dan tekanan-tekanan membuat jengkel.
            Secara garis besar faktor penyebab agresi dibedakan menjadi dua kategori yaitu sebagai proses internal yang dapat dijelaskan melalui teori kepribadian, teori insting, teori frustasi-agresif, teori modeling dan kator eksternal yaitu faktor lingkungan.
            Metode penelitian perilaku agresif menggunakan meta-analisis dengan mengikuti prosedur penelitian meta-analisis korelasi Hunter dan Schmid. Meta analisis ini sejalan dengan hasi penelitian yang menyimpulkan bahwa perilaku agresif disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan, keduanya menggunakan variabel penentu perilaku agresif. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah adanya keterkaitan antara faktor genetik dan lingkungan.
BAB XIII
PENGEMBANGAN KAPITAL INTELEKTUAL DAN SOSIAL: REFLEKSI PSIKOLOGIS MANAJEMEN SDM
             Kapital intelektual menunjukkan adanya kesejajaran dengan konsep kapital kemanusian yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan kapabalitas seseorang untuk bertindak dengan cara-cara baru. Melalui manajemen kapital intelektual dan manajer yang progresif berbagai tipe keputusan yang inovatif yang dapat dilakukan baik menyangkut sistem kontrol dan perencanaan, pelayanan dan produk-produk baru, sistem pengembangan latihan, sistem pemasaran, dan pelayanan terhadap pasar.
            Cheng dan Hsu menyimpulkan bahwa kapital intelektual dan sosial memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya pertumbuhan ekonomi memengaruhi pengembangan kapital intelektual dan sosial. Mereka yang tidak beradaptasi pada perubahan yang super cepat ini akan dilanda kesulitan. Pada saat ini, manusia, organisasi, atau negara tidak lagi berlayar di sungai yang tenang dan segala sesuatunya dapat diprediksi dengan tepat. Oleh karena itu, manusia harus terus memperluas dan mempertajam pengetahuannya serta mengembangkan kreativitasnya untuk berinovasi.
            Manajer yang berkualitas tinggi akan berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan strategik dan inovatif melalui pengembangan kapital intelektual dan sosial. Kapital sosial juga dimanifestasikan kedalam kemampuan untuk bisa hidup dalam perbedaan dan menghargai perbedaan.
            Kapital lembut disebut juga dengan soft capital, yaitu kapital yang diperlukan untuk menumbuhkan kapital sosial dan intelektual. Kapital lembut ini termasuk juga sifat amanah, sifat jujur, beretika yang baik, bisa dipercaya dan percaya pada orang lain, mampu menahan emosi, disiplin, pemaaf, sabar, iklas, dan ingin selalu menyenangkan orang lain. Sifat yang demikian ini sangat diperlukan bagi upaya membangun masyarakat yang beradab dan berkinerja tinggi.
BAB XIV
SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN PERILAKU MENYIMPANG
            Anak luar biasa diartikan sebagai individu-individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda dari individu lainnya yang dipandang normal oleh masyarakat pada umumnya. Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan keluarbiasaan yaitu, disabled secara umum merujuk pada pribadi yang mengalami gangguan fungsional. Impaired biasanya digunakan untuk menggambarkan deviasi yang berhubungan dengan pancaindra. Disordered juga sering digunakan untuk merujuk pada problem belajar atau perilaku sosial. Handicap mengacu pada kesulitan merespons atau menyesuaikan diri dengan lingkungan.
            Secara umum sifat-sifat khusus pribadi menyimpang termasuk pada salah satu atau lebih dari kategori berikut: kelainan sensori, deviasi mental, kelainan komunikasi, ketidakmampuan belajar, perilaku menyimpang, dan cacat fisik dan kesehatan.
            Anak luar biasa dengan kategori sedang dan berat memerlukan pendidikan individual, pengajaran khusus, dan penempatan pada program pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa. Faktor penting yang menjadi fokus perhatian para pendidik adalah upaya membekali anak luar biasa dengan batas-batas kemampuannya. Melalui program pendidikan terpadu dimana anak luar biasa belajar memasuki kehidupan yang normal.
            Ada beberapa kesulitan dalam mengestimasi anak luar biasa yaitu kesulitan dalam menentukan jenis-jenis kelainan yang berkaitan dengan kelaian khusus, masalah yang berhubungan dengan prosedur evaluasi dan kriteria yang digunakan untuk menentukan eksistensi kondisi berlainan, tenaga profesional dan biaya yang terbatas dalam menangani anak luar biasa.Semula ada dua alternatif program pengajaran yang diajukan yaitu: penyandang cacat memperoleh program pengajaran bersama dengan anak normal lainnya dengan kekhususan-kekhususan dan program pengajaran khusus pada kelas khusus atau sekolah khusus.
            Secara umum, siswa-siswa yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada pokoknya mengganggu atau merugikan orang lain maupun dirinya sendiri seiring dideskripsikan sebagai manifestasi dari penyimpangan perilaku. Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus maka penyimpangan perilaku didefenisikan sebagai perilaku yang menunjukkan karakteristik: membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berbeda dengan standar normalitas,gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
            Faktor-faktor yang berhubungan dengan orientasi pendidikan khusus mencakup karakteristik pribadi, kemampuan guru, dan prevalensi penyimpangan perilaku. Secara umum penyimpangan perilaku dapat dikelompokkan atas tiga kategori yaitu: konflik lingkungan, gangguan kepribadian, dan gangguan belajar.
            Pada awal abad ke-20 pendidikan bagi mereka yang mengalami penyimpangan perilaku telah disediakan dalam bentuk sekolah khusus,meskipun pada awalnya hanya dipandang sebagai kegiatan ekstra atau sekedar perluasan terapi psikodinamik. Pada 1950-an dan 1960-an seiring dengan pengaruh model-model modifikasi perilaku dan psiko-edukasional, maka diterapkan pula kelas-kelas khusus, pusat pelayanan dan pendidikan khusus bagi mereka yang berperilaku menyimpang. Pada saat yang sama reformis sosial secara sukses mengkapanyekan upaya meniadakan hukuman penjara dan tindakan kekerasan lainnya terhadap orang berperilaku menyimpang dengan mendirikan rumah sakit mental.
            Psikologi psikodinamik telah digunakan sebagai terapi bagi anak dan remaja dengan dua cara. Pertama, terapi psikoanalisis dan psikodinamik yang lain digunakan sebagai terapi secara individual atau kelompok pada klinik kesehatan, dan lembaga pendidikan/sekolah. kedua prinsip-prinsip psikologi psikodinamik telah diadaptasi terutama untuk keperluan situasi pendidikan.
            Faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku dapat diklasifikasikan atas dua kategori yakni, kondisi biologis yang terdiri dari faktor hereditas, kerusakan otak, diet atau keadaan nutrisi. Kondisi psikologis adalah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, masyarakat atau faktor dari individu itu sendiri. Interaksi kondisi biologis dan psikologi merupakan faktor yang lebih kompleks sebagai penyebab perilaku menyimpang.
            Perilaku menyimpang menurut kategori DSM-III meliputi, retardasi mental, defisit perhatian, gangguan perilaku nyata, kecemasan, nervosa anoreksia, autisme, penyimpangan perkembangan spesifik. Secara umum masalah utama yang dialami siswa berperilaku menyimpang dikelompokkan atas konflik lingkungan, gangguan kepribadian, dan gangguan belajar. Karakteristik konflik lingkungan adalah perilaku agresif, hiperativitas dan ketidakmampuan penyesuaian sosial. Karakteristik kecemasan dan menarik diri diasosiasikan dengan kategori gangguan pribadi.
            Ada tiga metode yang digunakan untuk menilai perilaku menyimpang yaitu, fungsi-fungsi aktual di dalam situasi alamiah dilakukan melalui abservasi langsung, dan evaluasi fungsi-fungsi aktual di dalam situasi yang dimanipulasi.
BAB V
PROFESIONALISME GURU: MASALAH DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA
            4 kompetensi yang harus dikuasai oleg guru antara lain: Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan ersonal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
            Kompetensi pedagogis yaitu pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasi belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
            Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
            Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, da masyarakat sekitar.
            Masalah terbesar terakait pengembangan profesi guru adalah minat dari mahasiswa untuk masuk LPTK, komitmen guru yang masih rendah, beberapa guru SD bahkan melum meperoleh gelar sarjana, ada beberapa guru yang kompetensinya tidak sesuai bidang tugasnya, guru yang kurang bertanggung jawab dalam pelaksanakan keprofesionalannya, keterbatasan guru dalam mengembangkan keprofesionalisasiannya, dan masalah lainnya.
            Pembinaan guru sebagai tenaga profesional dapat dilakukan dengan: penerimaan mahasiswa calon guru di LPTK perlu menggunakan alat seleksi yang memungkinkan diperolehnya calon guru yang berbakat dan berminat, pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial guru, pengembangan kompetensi pedagogis dan profesional guru.
BAB XVI
TEKNIK PENYUSUNAN SKALA PENGUKURAN
             Pengukuran dalam psikologi suatu prosedur pemberian angka terhadap atribut-atribut psikologi. Jadi, untuk memberikan gambaran mengenai prestasi belajr, diperlukan pengukuran tentang prestasi belajar yang akurat. Secara umum ada tiga macam instrumen yang paling sering dipai dalam penelitian ilmiah yaitu angket, tes, dan skala nilai. Angket digunakan untuk menilai keadaan pribadi orang lain, tes digunakan untuk mengungkapkan keadaan ribadi orang lain, dan skala nilai digunakan untuk menilai keadaan pribadi orang lain.
            Selanjutnya Ancok menjelaskan ada tiga cara ubtuk mengoperasikan suatu konsep, yakni: pertama mencari defenisi-defenisi tentang konsep yang akan dioperasikan. Kedua kalau sekiranya dalam literatur tidak diperoleh defenisi konsep yang kita ukur maka kita harus mendefenisikan sendiri menggunakan pemikiran rasional. Ketiga menanyakan langsung kepada responden.
            Ada tiga syarat utama yang harus dimiliki oleh suatu instrumen penelitian yaitu: kesahihan atau validitas, keandalan, dan ketelitian. Kesahihan atau validitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang perlu diukur. Secara umum validitas instrumen mencakup validitas isi butir, validitas konstruksi dan validitas butir.
            Reabilitas atau keanadalan adalah indeks yang digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan alat pengukur yang sama.
            Pada dasarnya ada dua cara yang dapat ditempuh untuk menguji tingkat keandalan instrumen yaitu melalui alat ukur ulang dan melalui ukur sekali. Cara yang paling banyak digunakan untuk mengetahui validitas butir suatu alat pengukur ialah dengan cara mengorelasikan antara skor yang diperoleh pada masing-masing butir dengan skor total pada setiap faktor dari suatu alat pengukur. Selanjutnya analisis putaran kedua dilakukan untuk mencari korelasi antara butir dengan faktor yang sudah dikurangi dengan butir yang tidak sahihsekaligus mencari reliabilitas butir jawaban dalam tiap-tiap faktor maupun secara keseluruhan.














BAB III
PEMBAHASAN
Keunggulan Buku
1.      Daftar isi dan daftar pustaka disusun secara rapi di setiap akhir bab sehingga memudahkan pembaca jika ingin mencari buku.
2.      Isi buku diambil dari teori-teori para ahli dan pengetahuan dari penulis dengan fakta yang ada. Sehingga pembaca lebih mudah mencari informasi dari daftar rujukan.
3.      Buku ini sangat relevan untuk digunakan sebagai panduan bagipara calon gurudan guru karena buku ini menjelaskan bagaimana arah pendidikan yang sebenarnya diharapkan dalam pembangunan untuk kemajuan bangsa Indonesia.
4.      Buku ini memberikan beberapa pertanyaan di bagian akhir tiap bab sehingga pembaca bisa mengukur sendiri sejauh mana sebenarnya ia telah memahami buku ini.
KEUNGGULAN BUKU INI DIBANDINGKAN BUKU KARANGAN PROF.DR.H.DJAALI
1.      Buku pembanding tidak memiliki rangkuman di akhir setiap bab seperti buku utama. Buku pembanding juga tidak memiliki pertanyaan di akhir bab untuk membantu pembaca mengukur sejauh mana pengetahuannya.
2.      Tahap perkembangan menurut beberapa teori di buku utama lebih banyak dibandingkan di buku pembanding. Dibuku utama dijelaskkan 4 teori mengenai perkembangan sedangkan di buku pembanding hanya dijelaskan 2 teori itupun langsung pada ahlinya.
3.      Mengenai pembahasan perkembangan remaja buku utama lebih dalam membahas topik ini dibandingkan buku pembanding. Buku utama hanya menjelaskan mengenai pengalaman sosial masa remaja sedangkan buku utama menjelaskan bagaimana perkembangan fisik, kognitif, emosi, moral, dan sosial remaja itu secara lebih mendalam.
4.      Buku utama menjelaskan mengenai konsep diri dan upaya pengembangannya sedangkan buku pembanding tidak menyinggung hal ini sama sekali padahal ini termasuk topik penting dalam psikologi pendidikan.
5.      Buku utama juga menyajikan mengenai siswa berkebutuhan khusus serta menjelaskan bagaimana perilaku dari siswa yang membutuhkan kebutuhan khusus itu, sedangkan di buku pembanding tidak ada disinggung sama sekali.
KEUNGGULAN BUKU UTAMA DIBADINGKAN BUKU KARANGAN DRS. SUMADI SURYABRATA
1.      Teori perkembangan individu lebih luas dibahas buku utama dengan menjelaskan teori psikodinamika, teori bilogis, teori orientasi lingkungan, teori interaksionisme. Sedangkan di buku pemabnding hanya ada teori asosiai, gestalt dan sosiologis, disini buku utama lebih lengkap.
2.      Buku utama dan buku pembanding sama-sama membahas penilaian hasil-hasil pendidikan hanya saja buku utama lebih unggul karena buku utama memberikan contoh penelitian itu beserta data-datanya sehingga topik ini akan lebih mudah dimengerti jika digunakan buku utama ini sebagai panduan.
3.      Buku pembanding lebih terfokus pada masa anak-anak sedangkan buku utama terfokus pada masa remaja yang umumnya memang remaja yang sulit memahaminya karena pada usia remaja memang usia peralihan dari anak-anak menjadi dewasa.




















Kelemahan Buku
1.      Pokok bahasan dalam buku ini kadang sudah terlalu jauh dari judul,artinya banyak pokok bahasan yang sudah tidak seharusnya dibahas dalam suatu judul jadi ikut dibahas sehingga membuat pembaca menjadi bingung.
2.      Bahasa yang digunakan di buku ini banyak yang sulit dimengerti dan ada juga yang kadang terkesan bertele-tele
KELEMAHAN BUKU UTAMA DIBANDINGKAN BUKU KARANGAN PROF.DR.H.DJAALI
1.      Bahasan mengenai tugas-tugas perkembangan di buku utama lebih terfokus ke tugas perkembangan anak-anak sedangkan di buku pembanding tugas-tugas perkembangan ini lebih luas lagi dengan pembahasan tugas perkembangan di setiap tahap usia.
2.      Buku utama membahas perkembangan sosial, fisik, bahasa dan kognitif tanpa membas perkembangan karakter padahal dalam psikologi pendidikan karakter adalah salah satu topik yang utama sedangkan di buku pembanding topik ini dibahas bahkan lebih mendalam dalam satu bab.
3.      Buku utama tidak membahas mengenai psikologi kepribadian yang sebenarnya penting juga untuk mempelajarinya bagi seorang guru, sedangkan di buku pembanding psikologi kepribadian  topik ini bahkan dibahas dengan lebih mendalam dalam satu bab.
KELEMAHAN BUKU UTAMA DIBANDINGKAN BUKU KARANGAN DRS. SUMADI SURYABRATA
1.      Buku pembanding membahas pengantar psikologi secara lebih luas dengan menjelaskan pengertian psikologi, fantasi, ingatan, berpikir, perasaan, dan motif-motif sedangkan buku utama hanya menjelaskan pengertian dan pentingnya psikologi sebagai pengantar psikologi
2.      Buku utama tidak membahas mengenai psikologi kepribadian yang sebenarnya penting juga untuk mempelajarinya bagi seorang guru, sedangkan di buku pembanding psikologi kepribadian  topik ini bahkan dibahas dengan lebih mendalam dalam satu bab.







BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
          Pada hakikatnya inti persoalan psikologi pendidikan terletak pada anak didik, sebab pendidikan adalah perlakuan terhadap anak didik yang secara psikologis perlakuan tersebut harus selaras dengan keadaan anak didik. Dengan demikian permasalahan psikologis yang berperan dalam proses pendidikan anak dapat terjawab apabila pendidik dapat memberikan bantuan kepada anak didik agar berkembang secara wajar melalui bimbingan, pemberaian bahan ajar yang berstruktur dan berkualitas. Kemampuan pendidik harus mampu mengenal hukum-hukum psikologis mengenai anak pada mumnya.
        Buku karangan Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M. Si yang berjudulPsikologi Pendidikanini secara keseluruhan sudah lengkap dan cocok dijadikan panduan bagi para calon guru dan guru. Dibandingkan buku lain yaitu buku karangan Drs. Sumadi Suryabrata dan Prof. Dr. H. Djaali buku ini sedikit lebih lengkap walaupun ada juga beberapa topik bahasan dalam buku pembanding yang tidak dimuat dalam buku ini.
            Dari segi isi buku ini sebenarnya sudah merangkum beberapa materi dengan lebih sederhana agar mudah dimengerti oleh pembaca.Setiap topik bahasan dalam buku ini juga dijelaskan secara lebih mendalam. Jadi walau memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan menurut saya secara keseluruhan buku ini sudah sangat bagus dan lengkap.
Saran
            Secara keseluruhan buku ini sangat relevan digunakan oleh guru dan calon guru karena bahasan psikologi pendidikan yang sangat mendalam dan mudah di mengerti namun, buku ini juga memiliki kelemahan seperti pokok bahasan mengenai konsep Psikologi Kepribadian yang tidak dibahas dalam buku ini sementara ada dalam buku pembanding. Penulis menyarankan jika memakai buku ini sebaiknya ada juga buku lain yang memuat bahasan yang tidak ada dalam buku ini sehingga materi pembaca mengenai psikologi pendidikan lebih lengkap lagi.






Daftar Pustaka
Prof. Dr. Bachri Syamsul. 2013. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenadamedia.

Drs. Suryabrata Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada

SILAHKAN KLIK DISINI