BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Pengembangan manusia
seutuhnya tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan kegagalan dijumpai dalam upaya
pengembangan tersebut. Sumber-sumber rintangan dan kegagalan tersebut ada yang
berasal dari sifat-sifat manusia yang kadang sudah melampaui batas, kekurangan
sosial dan individual, keleahan prasarana upaya, dan hubungan yang kurang
serasi antara manusia dan lingkungannya. Apabila masalah ini dibiarkan
berlarut- larut akan membawa dampak negatif bagi manusia dan lingkungannya.
Pendidikan yang pada dasarnya mengupayakan mengupayakan
pengembangan manusia seutuhnya serta terhindar dari berbagai sumber rintangan
dan kegagalan tersebut perlu diselenggarakan secara luas dan mendalam mencakup
segenap segi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Pengajaran di
kelas-kelas saja tidak cukup memadai untuk menjawab tuntutan penyelenggaraan
pendidikan yang luas dan mendalam itu.
Tugas guru dalam mendidik dan membimbing para murid kini
kian menuntut pemahaman mendalam akan peserta didiknya, makan pembelajaran,
proses dan strategi serta penilaian pembelajaran. Bidang-bidang itulah yang
menjadi fokus bahasan serta kajian psikologi pendidikan tersebut dialirkan
secara sistematis. Perlakuan terhadap peserta didik harus selaras dengan
hakikat perkembangan. Prinsip perkembangan bermakna perubahan yang harus
ada dan tercapai pada setia fase
perkembangan.
Tujuan
Tujuan penulisan book report ini adalah
untuk mencari inti dari buku Psikologi Pendidikanini. Selain itu penulis
membuat critical book report ini untuk mencari kelebihan dan kelemahan yang
dimiliki buku ini
Tujuan lain dari penulisan critical book report ini
adalah untuk memenuhi tagihan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Manfaat
Manfaat dari penulisan critical book
report ini adalah agar memahami buku Psikologi Pendidikan ini menjadi lebih
mudah dengan adanya ringkasan buku yang dibuat. Critical book report ini juga
bermanfaat agar pembaca mengetahui kualitas dari buku ini karena disini penulis akan memberikan pendapatnya mengenai kelebihan dan
kekurangan yang dimiliki buku ini.
BAB
II
Isi
Buku
Identitas
Buku
Judul : Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis
Empiris Aplikatif
Penulis : Prof. Dr. Syamsul
Bachri Thalib
Penerbit : Kencana
Tebal Buku : 318 halaman
Isi Buku Teks
Buku
teks terdiri dari :
1.
Sampul berwarna hitam dengan latar
berwarna putih
2.
Halaman Judul
3.
Lembaran yang menerangkan: tahun terbit,
penerbit, kutipan pernyataan hak akan kekayaan
Intelektual, dan Nomor ISBN.
4.
Kata pengantar
5.
Daftar Isi
6.
Bab I : Pendahuluan
7.
Bab II : Perkembangan Individu
8.
Bab III :
Perkembangan Remaja
9.
Bab IV :
Pemberdayaan Kearifan Lokal dalam PAUD
10.
Bab V :
Analisis Sosiokultural Vygotsky dalam Psikologi Pendidikan
11.
Bab VI :
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional
12.
Bab VII :
Konsep Diri dan Upaya Pengembangannya
13.
Bab VIII :
Keterampilan Komunikasi Didik dan Implikasinya di Pembelajaran
14.
Bab IX :
Keterampilan Sosial Dan Upaya Pengembangannya
15.
Bab X :
Persepsi Interpersonal: Dasar Psikologis Perilaku Sosial
16.
Bab XI :
Perilaku Kekerasan dan Softskills
17.
Bab XII :
Studi Meta-Analisis Atribusi Personal Dan perilaku Agresi
18.
Bab XIII :
Pengembangan Kapital Intelektual dan Sosial
19.
Bab XIV :
Siswa Berkebutuhan Khusus dan Perilaku Menyimpang
20.
Bab XV :
Profesionalisme Guru: Masalah dan Upaya Pengembangannya
21.
Bab XVI :
Teknik Penyusunan Skala Pengukuran
Ringkasan
Isi buku
BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi
mengandung pengertian studi tentang proses mental dan perilaku atau studi mengenai
fenomena persepsi, kognisi, emosi, kepribadian, perilaku dan hubungan
interpersonal. Psikologi juga mengacu pada aplikasi pengetahuan berbagai
aktivitas manusia, mencakup isu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Secara lebih luas, psikologi mengandung pengertian usaha untuk memahami peran
individu dan perilaku sosial, termasuk pengembangan manusia, olahraga,
kesehatan, industri, media, dan hukum.
Secara konseptual psikologi
bertujuan mendeskripsikan, menjelaskan dan mengontrol perilaku manusia.
Mengadakan deskripsi berarti menggambarkan secara jelas fenomena,
mendeskripsikan berarti menggambarkan secara jelas fenomena, dan membuat
prediksi berarti melakukan estimasi mengenai peristiwa yang mungkin muncul dan
fungsi kontrol berarti mengendalikan atau mengatur fenomena.
Psikologi pendidikan adalah disiplin
vital atau hal penting yang memberikan kontribusi terhadap pendidikan dalam
memahami makna pembelajaran, peserta didik, proses belajar, strategi
pembelajaran dan asssesment pembelajaran. Secara singkat dapat dikemukakan
bahwa persoalan psikologis yang menjadi fokus utama dalam psikologi pendidikan
adalah peserta didik, yakni sifat-sifat psikologis yang ada pada peserta didik
dalam proses pembelajaran.
Psikologi pendidikan berupaya meletakkan
dasar-dasar kepribadian berdasar pada konsep kematangan, perbedaan individual,
hereditas dan faktor lingkungan termasuk lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat. atribut-atribut psikologis berbeda antara individu yang satu dengan
individu lainnya, termasuk perkembangan kepribadian, intelegensi, bakat,
prestasi, temperamen, konsep diri, kontrol diri, percaya diri, dan harga diri.
Pendidikan tidak hanya bertujuan
mengantarkan peserta didik ke arah kedewasaan melainkan juga pencapaian
perilaku yang lebih luas dan lebih banyak kemungkinannya. Psikologi pendidikan
berfungsi sebagai alat bantu untuk menciptakan kehidupan yang sehat, damai, dan
sejahtera.
BAB
II
PERKEMBANGAN
INDIVIDU
Teori-teori yang menjelaskan
perbekmbangan antara lain yakni, Teori Psikodiamika
Sigmund Freud yang dikenal dengan teori psikoanalitik, ia memandang bahwa
seorang anak yang dilahirkan memiliki dua kekuatan yakni libido dan nafsu mati.
Struktur anak pada waktu dilahirkan adalah das es yang mendorong anak memuaskan
nafsunya, das ich yang berfungsi sebagai penentu dirinya dan das uber ich yang
berfungsi mengatur perilaku das ich.
Teori
yang menekankan faktor biologis menitikberatkan pengaruh faktor bawaan
termasuk bakat atau keadaan psikofisik yang dibawa sejak lahir. Perkembangan
bersifat endogen, artinya perkembangan itu tidak hanya spontan saja melainkan
juga harus dimengerti sebagai pemekaran predisposisi yang ditentukan secara
biologis.
Konsep
lingkungan adalah kelompok konsep yang mementingkan pengaruh lingkungan terhadap
perkembangan anak, termasuk konsep belajar dan konsep mengenai sosialisasi yang
bersifat sosiologis. Konsep belajar memandang belajar sebagai suatu bentuk
perubahan atas perilaku seseorang dalam disposisi atau potensi yang bersifat
relatif tetap.
Teori interaksionisme sering pula
disebut teori perkembangan kognitif Piaget. Menurutnya perkembangan adalah
suatu proses perubahan sebagai hasil dari proes belajar yang merupakan
kombinasi dari pembelajaran, pengalaman,
dan kematangan. Konsep ini mementingkan perkembangan intelektual. Teori ini
juga menekankan pentingnya interaksi resiprokal sebagai penentu perilaku
kekerasan.
Tahap-tahap perkembangan yakni,
perkembangan masa bayi(0-1 thn) yakni timbul kepercayaan vs ketidakpercayaan.
Kedua perkembangan prasekolah(2-6 thn) yakni antara otonomi vs keragu-raguan.
Ketiga perkembangan masa kanak-kanak(2-6thn) yakni antara inisiatif dan rasa
bersalah. Keempat perkembangan masa sekolah(6-12 thn) yakni antara kompetensi
dan rendah diri. Kelima perkembangan pada masa remaja(12-18 thn) yakni antara
identitas dan kebingungan. Keenam masa dewasa(19-40 thn) yakni antara keintiman
dan isolasi. Ketujuh tahap masa dewasa pertengahan(40-65 thn) yakni antara
kebangkitan dan staknasi. Kedelapan masa dewasa akhir( >65 thn) yakni antara
integritas dan rasa bersalah.
Pakar psikologi Indonesia Nuryoto
menggolongkan fase-fase kehidupan manusia atas 3 kategori utama yakni : masa
progresif yaitu dimana individu bertumbuh secara fisik, psikis, sosial ke arah
yang sempurna. Masa statis individu telah mencapai kematangan perkembangan
secara menyeluruh dan sempurna. Kondisi yang dimiliki itu akan dipertahankan
hingga fase berikutnya. Selanjutnya masa regresif yaitu sesorang mengalami
kemunduran khususnya fisik.
Berdasar tahap perkembangan pencapaian
tugas perkembangan masa bayi merupakan kesuksesan dan kebahagian hidup pada
masa itu, bahkan menjadi basis kesuksesan pencapaian yugas perkembangan
selanjutnya, begitu pula sebaliknya.
BAB
III
PERKEMBANGAN
REMAJA
Masa remaja merupakan salah satu
masa perkembangan yang dialami manusia dalam hidupnya dan masa remaja merupakan
peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Beberapa ahli mempunyai
pendapat yang berbeda mengenai kapan masa remaja itu berlangsung, karena memang
perkembangan manusia itu bersifat individual. Pada masa transisi remaja dalam
kondisi tidak stabi. Ada perasaan tidak aman karena harus mengganti atau
mengubah pola tingkah laku anak-anak ke dewasa. Emosi yang tidak stabil dapat
mendatangkan perasaan tidak bahagia.
Perubahan fisik sudah dimulai pada
masa praremaja dan terjadi secara cepat pada remaja awal yang akan makin
sempurna pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Penyimpangan yang
mungkin terjadi pada proses kematangan seksual yang dialami remaja adalah jika
terlalu awal atau terlalu lambat. Kematangan fisik remaja perempuan biasanya
lebih cepat dari laki-laki. Intensitas kebutuhan remaja bersifat individual
artinya tidak sama persis antara individu satu dengan yang lainnya. Hal ini
disebabkan kondisi pribadi berbeda, dan lingkungan yang berlainan.
Piaget menjelaskan bahwa selama
tahap operasi formal yang terjadi sekitar 11-15 tahun, seorang anak mengalami
perkembangan penalaran dan kemampuan berfikir untuk memecahkan persoalan yang
dihadapinya berdasar pengalaman langsung. Struktur kognitif anak mencapai
kematangan pada tahap ini. Potensi kualitas penalaran dan berpikir berkembang
secara maksimum.
Emosi merupakan salah satu aspek
psikologis manusia dalam ranah afektif. Pada masa remaja ekspresi emosi yang
tampak kadang-kadang tidak menggambarkan kondisi emosi yang sebenarnya.
Ekspresi emosi sifatnya sangat individual atau subjektif, tergantung pada
kondisi pribadi masing-masing orang. Emosi yang menonjol pada remaja termasuk
khawatir, cemas, jengkel, frustasi, cemburu, iri, rasa ingin tau, dan afeksi
atau rasa kasih sayang dan perasaan bahagia..
Perkembangan moral dimulai dengan
tahap prakonvensional yang tahap pertamanya orientasi hukuman, kedua orientasi
instrumental. Tahap konvensional yang dimulai dengan tahap ketiga orientasi
hubungan interpersonal dan tahap keempat orientasi hukum dan aturan.
Selanjutnya tahap postkonvensional yang dimulai dengan tahap kelima orientasi
kontrak sosial dan tahap keenam orientasi prinsip etika universal. Proses
perkembangan moral remaja secara gradual mengalami perubahan dari perkembangan
yang lebih otoriter menjadi kurang otoriter seiring dengan perkembangan aspek
kognitif dan kepribadian.
Secara umum perkembangan sosial
merupakan ekspresi dari kondisi fisik dan psikis individu yang diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Pada waktu mulai merenggangnya ikatan-ikatan
keluarga para remaja juga membina identifikasi yang lebih besar dengan
orang-orang lain dari kelompok umur yang sama. Meningkatnya waktu yang
digunakan remaja untuk berinteraksi dengan teman sebaya adalah berkaitan dengan
aktivitas atau perkembangan sikap yang kadang-kadang kontras dengan orang tua.
BAB
IV
PEMBERDAYAAN
KEARIFAN LOKAL DALAM PAUD
Usia dini (0-6 th)merupakan masa
penting dalam pembentukan pribadi seorang anak, baik dari segi intelektual,
kepribadian, kesehatan, maupun dari segi psikososialnya. Perkembangan yang baik
ditentukan oleh beberapa aspek di antaranya adalah adanya dukungan kesehatan,
gizi, dan stimulasi psikososial. Keluarga merupakan pendukung utama nilai-nilai
kearifan lokal terutama dalam pengasuhan anak.
Pengasuhan orang tua sebagai proses
interaktif anata-anggota keluarga, berhubungan dengan keterampilan dalam
menerapkan pengawasan penggunaan disiplin dan hukuman yang efektif, pemberian
dorongan atau penguatan yang mendukung perkembangan keterampilan prososial dan
keterampilan pemecahan masalah. Penggunaan hukuman dan disiplin secara
konsisten serta bantuan pemecahan masalah merupakan aspek penting dalam proses
pembimbingan dan pengasuhan.
Keluarga adalah pendukung
nilai-nilai kearifan lokal terutama dalam pengasuhan anak karena anak merupakan
pusat perhtian keluarga bahkan semenjak masih dalam kandungan. Secara eksplisit
perbedaan statu sosial ekonomi, rasial, kelompok etnis dan lingkungan budaya
secara umum mempengaruhi praktek pengasuhan.
Pandangan responden tentang anak
ideal cukup bervariasi sebagian besar mengatakan bahwa anak ideal dari aspek
pendidikan adalah anak yang mempunyai tingkat pendidikan yang memadai atau
harus menempuh pendidikan formal serta harus dibina mulai dari umur 0-6 tahun
dan 6-12 tahun.
Untuk mewujudkan agar anak menjadi
yang ideal maka masyarakat mengajarkan atau mengasuh anak dengan cara yang
sudah berlangsung secara turun menurun yaitu dengan terlebih dahulu mengajarkan
kepada anaknya tentang sopan santun dari segi tutur kata maupun sikap dan
perilaku. Ibu lebih berperan dalam pengasuhan anak karena ibu yang lebih banyak
dirumah dan memang ibu yang berhak mengasuh anak.
Cara menanamkan disiplin terhadap
anak dilakukan dengan cara yang bervariasi ada yang otoriter bahkan dengan
tindakan keras , ada yang demokratis terutama orang tua yang telah memiliki
tingkat pendidikan yang tinggi, disamping itu orang tua menanamkan kedisiplinan
terhadap anak melalui sikap keteladanan, dan memberi hadiah bila berprestasi
BAB
V
ANALISIS
SOSIOKULTURAL VYGOTSKY DALAM PERSEPKTIF PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Menurut Vygotsky interaksi sosial
merupakan landasan terjadinya perkembangan kognitif. Di samping itu
perkembangan biologis dan kultural tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
kognitif anak.konsep dasar teori kognitif mengacu pada tingkat aktivitas mental
yang tidak dapat diubah begitu saja dalam menjelaskan tindakan sosial dengan
postulat yang sesungguhnya, seperti persepsi, pikiran, intensi, perencanaan,
keterampilan dan perasaan. Vygotsky percaya bahwa perkembangan adaah suatu
proses yang harus dianalisis sebagai suatu produk yang akan dicapai. Vygotsky
percaya bahwa hidup merindukan proses perkembangan dan hal ini sangat
tergantung pada interaksi sosial dan belajar sosial itu secara aktual
berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Vygotsky menyatakan bahwa setiap
fungsi perkembangan budaya berpengaruh terhadap perkembangan anak pada level
sosil dan individual. Aspek kedua dar teori Vygotsky adalah gagasan bahwa
secara potensial perkembangan kognitif anak terbatas pada suatu rentang waktu
tertentu yang disebut wilayah perkembangan proksimal. Menurut pandangan
Vygotsky interaksi dengan teman sebaya, perancah, dan modeling merupakan faktor
penting yang memfasilitasi perkembangan kognitif dan pemerolehan pengetahuan
individu, termasuk dalam perkembangan bahasa.
Scaffolding berarti pemberian
bantuan dan bimbingan kepada anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan
kemudian anak mengambil alih tanggung jawab yang lebih besar setelah ia
melakukannya. Teori Sosiokultural Vygotsky menekankan pentingnya perkembangan
kecerdasan/intelegensi melalui kultur atu masyarakat.
Menurut Vygotsky bahasa berperan
penting dalam perkembangan kognitif. Perkembangan bahasa meliputi empat tahap
yaitu tahap pra-linguistik, psikologi naif, bahasa egosentrik, dan bahasa
internal. Ia yakin bahwa manusia mempunyai kemampuan dasar inborn ability yang
potensial untuk perkembangan bahasa dan kemudian berinteraksi dengan
lingkungan. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi peluang bagi anak
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
Teory Vygotsky berfokus pada 4 hal
pokok yakni pengaruh interaksi sosial dalam perkembangan, scaffolding( perancah
atau pemberian bantuan), modeling, zone of proximal development( perbedaan
antara apa yang dapat dikerjakan sendiri oleh anak dan apa yang dapat
dikerjakan dengan bantuan orang lain). Pembelajaran kooperatif berdasar teori
sosiokultural Vygotsky diharapkan memberikan kontribusi dalam perkembangan
bahasa dan kepribadian anak.
BAB
VI
KONTROL
DIRI DAN KEMATANGAN EMOSIONAL
Kontrol diri menggambarkan keputusan
individu melalui pertimbangan kognitif untuk mengontrol perilaku guna
meningkatkan hasil dan tujuan tertentu, sebagaimana yang diinginkan. Kontrol
diri berkaitan erat pula dengan keterampilan emosional. Bahkan kontrol diri
merupakan salah satu komponen keterampilan emosional. Keterampilan emosional
adalah kemampuan lebih yang dimiliki sesorang dalam memotivasi diri, ketahanan
dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta
mengatur perasaan.
Keterampilan emosi memungkinkan
individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar selanjtnya mampu
menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh
yang manusiawi. Secara singkat keterampilan emosional mencakup tiga unsur
penting yaitu kecakapan pribadi, keterampilan interpersonal, dan keterampilan
sosial.
Aspek-aspek kontrol diri yitu,
mengontrol perilaku untuk memodifikasi keadaan yang tidak menyenangkan terdiri
dari dua komponen yakni kemampuan mengatur pelaksanaan dan kemampuan mengatur
stimulus. Mengontrol kognitif yaitu cara seseorang dalam menafsirkan, menilai,
atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif, terdiri dari
dua komponen yakni kemampuan memperoleh informasi dan melakukan penilaian.
Mengontrol keputusan merupakan kemampuan individu untuk memilih dan menentukan
tujuan yang diinginkan.
Dapat disimpulkan kemampuan
mengontrol diri mencakup: kemampuan mengontrol perilaku, kemampuan mengontrol
stimulus, kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa, kemampuan menafsirkan
peristiwa dan kemampuan mengambil keputusan.
Secara umum strategi untuk
memaksimalkan kontrol diri adalah membuat atau memodifikasi lingkungan menjadi responsif atau menunjang tujuan yang
diinginkan indivisu, memperbanyak informasi dan kemampuan untuk menghadapi atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan menggunakan secara efektif kebebasan
memilih dalam pengaturan lingkungan.
BAB
VII
KONSEP
DIRI DAN PENGEMBANGANNYA
Secara luas konsep diri dirumuskan
sebagai skema kognitif atau pandangan dan penilaian tentang diri sendiri yang
mencakup atribut-atribut spesifik yang terdiri atas komponen pengetahuan dan
komponen evaluatif. Konsep diri merupakan filter dan mekanisme yang mewarnai
pengalaman keseharian. Siswa yang menunjukkan konep diri yang rendah atau
negatif akan memandang dunia sekitarnya positif, demikian pula sebaliknya.
Aspek-aspek konsep diri dibedakan
menjadi konsep diri akademis dan konsep diri non-akademis dibedakan lagi
menjadi konsep diri sosial dan penampilan diri. Konsep diri sebagai gambaran
atau pengetahuan tentang diri sendiri mencakup diri jasmaniah, diri sosial, dan
diri spiritual.
Berdasarkan telaah deskriptif dan
analisis empiris mengenai konsep diri dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor
yang memengaruhi konsep diri siswa mencakup faktor keadaan fisik dan penilaian
orang lain mengenai fisik individu. Faktor keluarga termasuk pengasuhan orang
tua, pengalaman periaku kekerasan, sikap saudara, dan status sosial ekonomi,
dan faktor lingkungan sekolah.
Siswa yang memiliki konsep diri
positif akan memandang dirinya secara secara positif, penuh percaya diri dan
tidak mudah melakukan tindakan-tindakan destruktif terhadap dirinya sendiri
maupun orang lain. Sebaliknya siswa yang memiliki konsep diri negatif akan
memandang dirinya sebagai orang yang tidak berhasil, mudah mengganggu orang
lain dan melakukan tindakan destruktif.
BAB
VIII
KETERAMPILAN
KOMUNIKASI DIADIK DAN IMPLIMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN
Komunikasi diadik merupakan salah
satu bentuk komunikasi yang terjadi antara dua individu yang sudah saling
mengenal maupun yang belum saling mengenal. Komunikasi Diadik merupakan suatu
bentuk komunikasi interpersonal yang terjadi antara dua individu yang
menunjukkan adanya saling keterikatan atau hubungan antara satu dengan yang
lainnya. Secara singkat disimpulkan bahwa komunikasi diadik adalah salah satu
bentuk komunikasi yang melibatkan saling hubungan antara dua orang yang
bersifat interpendensi antara satu dengan yang lainnya dalam proses komunikasi.
Komunikasi diadik merupakan titik sentral dalam hubungan interpersonal atau
interaksi sosial.
Komunikasi
berlangsung dari tahap kebersamaan hingga tercipta hubungan yang akrab. Pada
taham akhir topik pembicaraan dan aktivitas semakin bervariasi dan saling
pengaruh menjadi semakin kuat yang ditandai dengan hubungan emosional yang
mendalam. Proses komunikasi interpersonal maupun komunikasi diadik menunjukkan
adanya saling keterkaitan antara unsur penerima, pengirim, pesan, penghubung
dan pengaruh.
Faktor yang menjadi penentu
keterampilan komunikasi diadik yakni faktor internal yang dominan memengaruhi
komunikasi diadik adalah kemampuan personal dalam menyampaikan pesan. Selain
faktor situasional kemampuan komunikasi juga memerlukan penyesuaian dengan
kultur suatu masyarakat. kemampuan personal menggambarkan pula kemampuan
memersepsi suatu stimulus. Faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar
berupa faktor sosial dan situasional. Paling tidak ada tiga faktor sosial yang
memengaruhi komunikasi yaitu: penampilan fisik, faktor kesamaan, dan penilaian
timbal balik.Faktor temporal atau saat berlangsngnya komunikasi dan keadaan
lingkungan sekitar merupakan faktor situasional yang menentukan efektifitas
komunikasi diadik.
Proses belajar mengajar yang efektif
menuntut keterampilan komunikasi diadik yang efektif pula. Adapun teknik-teknik
yang mendukung komunikasi yaitu, pengirim dan penerima pesan, saluran
jomunikasi dan kemampuan personal. Untuk memahami situasi diadik keterampilan
membuka percakapan dan bertanya sangat penting terutama dalam mengawali suatu
pembicaraan.
Keterampilan membuat paraphrase
membutuhkan kemampuan untuk mengungkap perasaan dan ucapan siswa serta
mengungkapkannya kembali dengan kata-kata sendiri secara singkat. Tujuannya
adalah mengungkapkan kepada siswa esensi yang telah dikemukakannya. Merefleksi
perasaan berarti menyampaikan kepada siswa apa yang kita pahami mengenai
perasaannya, hal ini dapat memberi penguatan dan penghargaan untuk siswa. Serta
membantu siswa lebih memahami perasaannya. Keterampilan konfrontasi adalah
keterampilan komunikasi antarpersonal yang menunjukkan secara terus terang dan
langsung kepada siswa bahwa apa yang dikemukakannya tentang dirinya sendiri
tidak sesuai dengan apa yang kita lihat dalam kenyataan sebenarnya.
BAB
IX
KETERAMPILAN
SOSIAL DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA
Keterampilan sosial dan kemampuan
penyesuaian diri menjadi semakin penting ketika anak sudah menginjak masa
remaja karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang
lebih luas di mana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat
menentukan. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan
berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan
orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, dll.
Keterampilan sosial itu memuat
aspek-aspek keterampilan untuk hidup dan
bekerja sama, keterampilan untuk mengontrol diri dan orang lain, keterampilan
untuk saling berinteraksi satu sama lain, saling bertukar pikiran dan
pengalaman hingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi setiap anggota dari
kelompok tersebut.
Secara singkat dapat dikemukakan
bahwa keterampilan sosial siswa bisa berkembang baik jika, interaksi atau
individu dalam suatu kelompok lancar dan suasana dalam kelompok adalah suasana
yang menyenangkan.
Seseorang memiliki keterampilan
sosial yang tinggi apabila dalam dirinya memiliki keterampilan sosial yang
terdiri dari sejumlah sikap termasuk, kesadaran situasional dan sosial,
kecakapan ide, efektivitas, dan pengaruh kuat dalam melakukan komunikasi dengan
orang atau kelompok lain, berkembangnya sikap empati atau kemampuan individu
melakukan hubungan dengan orang lain pada tingkat yang lebih personal, dan
terampil berinteraksi.
BAB
X
PERSEPSI
INTERPERSONAL: DASAR PSIKOLOGIS PERILAKU SOSIAL
Persepsi interpersonal adalah tespons terhadap
stimulus sehingga terbentuk suatu kesan yang berfungsi mengatur dan mempermudah
hubungan sosial. Proses persepsi interpersonal ini melibatkan keseluruhan aspek
pribadi seperti: pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman, dan situasi sosial
yang melatarbelakangi stimulus.
Proses terbentuknya persepsi
interpersonal berawal dari observasi seseorang baik terhadap situasi maupun
perilaku. Kemudian terjadi proses atribusi dan disposisi atau pengaturan dan
pengintegrasian seluruh faktor yang berperan dalam persepsi secara terintegrasi
sehingga membentuk suatu kesan terhadap objk persepsi. Kemuan timbul bias
persepsi yang terjadi terutama kesan yang timbul secara langsung melalui
penilaian sesaat. Selanjtnya faktor-faktor personal seperti karakteristik
pribadi, pengalaman, hubungan personal sebelumnya, motif-motif, serta faktor
situasional sangat berperan dalam persepsi interpersonal.
Faktor-faktor yang memengaruhi
persepsi interpersonal adalah pertama faktor fisik dan psikologis seperti kesan
dari penampilan fisik, prasaan, suasana hati, emosi dan informasi non-verbal
merupakan faktor penting memersepsi. Kedua, latar belakang kepribadian yang ada
dibalik penampilan fisik seseorang seperi sifat, motif-motif, dan kecendrungan
atau minat seseorang.
Perilaku seseorang sering kali
relevan untuk dijelaskan melalui penelaahan deskriptif terhadap persepsi
interpersonal dalam hubungan sosial. Sangat bermanfaat untuk menghindari
terjadinya kekeliruan atau kesalahan persepsi, apalagi menyangkut
penyederhanaan kesimpulan terhadap orang lain. Masalah yang sering dihubungkan
dengan kesalahan persepsi interpersonal adalah sterotip dan dampak gema.
Dampak negatif persepsi yang termuat
dalam sterotip adalah perlakuan kepada orang lain oleh seorang individu kedalam
suatu klasifikasi yang bersifat sempit. Dampak gema dalam lingkup psikologi
komunikasi merupakan suatu kesimpulan tentang kesan umum individu terhadap
ciri-ciri orang lain pada suatu peristiwa yang secara logis. Konsep psikologis
mengenai interpersonal sebagai dasar komunikasi dan perilaku sosial telah
dikembangkan dalam teori atribusi dan atraksi interpersonal. Atribusi adalah
kesimpulan yang buat untuk menerangkan penyebab perilaku.
BAB
XI
PERILAKU
KEKERASAN DAN SOFT SKILLS: APLIKASI PSIKOLOGI ISLAMI DALAM MENGEMBANGKAN KESEHATAN
MENTAL
Psikologi islami merupakan suatu
gerakan islamisasi psikologi dengan landasan dan orientasi nilai-nilai islami.
Psikologi islami berorientasi pada citra manusia menurut ajaran islam.
Kesehatan mental atau kesejahteraan subjektif yang merupakan evaluasi secara
kognitif dan afektif terhadap kehidupan manusia, sebagaimana dikemukakan oleh
Diener bahwa kesejahteraan subjektif dapat diklasifikasikan atas da komponen
yang saling berhubungan, aspek kognitif yang berupa kepuasan hidup dan aspek afektif.
Perilaku kekerasan mengandung resiko
bahaya dan kerugian bagi orang lain maupun pelaku kekerasan. Perilaku kekerasan
sebagai bentuk perilaku yang dapat merugikan orang lain seperti luka fisik,
psikologis, dan sosial. Lystad membedakan kekerasan dalam 4 jenis yakni,
kekerasan instrumental, kekerasan ekspresif, kekerasan, secara kultural, dan
kekerasan nonkultural. Selanjutnya Dipenegoro menjelaskan berbagai bentuk
perilaku kekerasan yaitu, mengolok-olok orang lain, mencela, memanggil orang
lain denga gelar yang tidak disukai,berburuk sangka, mencari-cari kesalahan
orang lain, dan bergunjing.
Softskills adalah kemampuan yang
dimiliki seseorang yang tidak bersifat
kognitif tetapi lebih bersikap afektif yang memudahkan seseorang untuk mengerti
kondisi sikologis diri sendiri, mengatur ucapan, pikiran, dan sikap serta
perbuatan yang sesuai dengan norma masyarakat , berkomunikasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya. Swiderski menjelaskan bahwa softsills terdiri atas tiga
faktor utama yaitu kemampuan psikologis, kemampuan sosial, dan kemampuan
komunikasi.
Selanjutnya dijelaskan bahwa ada 4
klaster utama pembentuk softskills siswa yaitu: interaksi yang meliputi
kesadaran `bersikap, keampuan mengatasi konflik,dll. Manjaemen pribadi yaitu
kemampuan membuat keputusan, kemauan belajar,dll. Kemampuan berkomunikasi dan
kemampuan mengorganisasi segala sesuatu.
BAB
XII
STUDI
META-ANALISIS ATRIBUSI PERSONAL DAN PENGALAMAN PERILAKU AGRESI
Perilaku agresif didefenisikan
sebagai perilaku yang secara aktual menimbulkan dampak negatif baik secara
fisik, psikis, sosial, integritas pribadi, objek atau lingkungan. Secara umum
perilaku agresif disebakan oleh faktor personal dan sosial. Pendekatan atribusi
personal beranggapan bahwa terdapat perilaku yang bersifat khas pada setiap
individu bahkan dapat diwariskan orang tua melalui gen.
Ada 3 pendekatan dalam penelitian
genetika perilaku yaitu, pendekatan melalui insting, perkawinan antar keturunan
untuk mempertahankan gen yang ada dan pendekatan atribut atau karakteristik
yang khas pada manusia. Miller menjawab masalah lingkungan dan mengajukan empat
alasan pentingnya faktor tersebut bagi agresivitas yaitu tekanan lingkungan
menyebabkan ketegangan timbul, tekan lingkungan menyebabkan rangsangan terlalu
banyak tekanan-tekanan bercampur dengan perilaku menimbulkan frustasi, dan
tekanan-tekanan membuat jengkel.
Secara garis besar faktor penyebab
agresi dibedakan menjadi dua kategori yaitu sebagai proses internal yang dapat
dijelaskan melalui teori kepribadian, teori insting, teori frustasi-agresif,
teori modeling dan kator eksternal yaitu faktor lingkungan.
Metode penelitian perilaku agresif
menggunakan meta-analisis dengan mengikuti prosedur penelitian meta-analisis
korelasi Hunter dan Schmid. Meta analisis ini sejalan dengan hasi penelitian
yang menyimpulkan bahwa perilaku agresif disebabkan oleh faktor genetik dan
lingkungan, keduanya menggunakan variabel penentu perilaku agresif. Hal yang
menarik dari penelitian ini adalah adanya keterkaitan antara faktor genetik dan
lingkungan.
BAB
XIII
PENGEMBANGAN
KAPITAL INTELEKTUAL DAN SOSIAL: REFLEKSI PSIKOLOGIS MANAJEMEN SDM
Kapital intelektual menunjukkan adanya
kesejajaran dengan konsep kapital kemanusian yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan kapabalitas seseorang untuk bertindak dengan cara-cara baru.
Melalui manajemen kapital intelektual dan manajer yang progresif berbagai tipe
keputusan yang inovatif yang dapat dilakukan baik menyangkut sistem kontrol dan
perencanaan, pelayanan dan produk-produk baru, sistem pengembangan latihan,
sistem pemasaran, dan pelayanan terhadap pasar.
Cheng dan Hsu menyimpulkan bahwa
kapital intelektual dan sosial memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya
pertumbuhan ekonomi memengaruhi pengembangan kapital intelektual dan sosial.
Mereka yang tidak beradaptasi pada perubahan yang super cepat ini akan dilanda
kesulitan. Pada saat ini, manusia, organisasi, atau negara tidak lagi berlayar
di sungai yang tenang dan segala sesuatunya dapat diprediksi dengan tepat. Oleh
karena itu, manusia harus terus memperluas dan mempertajam pengetahuannya serta
mengembangkan kreativitasnya untuk berinovasi.
Manajer yang berkualitas tinggi akan
berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan strategik dan inovatif
melalui pengembangan kapital intelektual dan sosial. Kapital sosial juga
dimanifestasikan kedalam kemampuan untuk bisa hidup dalam perbedaan dan
menghargai perbedaan.
Kapital lembut disebut juga dengan
soft capital, yaitu kapital yang diperlukan untuk menumbuhkan kapital sosial
dan intelektual. Kapital lembut ini termasuk juga sifat amanah, sifat jujur,
beretika yang baik, bisa dipercaya dan percaya pada orang lain, mampu menahan
emosi, disiplin, pemaaf, sabar, iklas, dan ingin selalu menyenangkan orang
lain. Sifat yang demikian ini sangat diperlukan bagi upaya membangun masyarakat
yang beradab dan berkinerja tinggi.
BAB
XIV
SISWA
BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN PERILAKU MENYIMPANG
Anak luar biasa diartikan sebagai
individu-individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda dari individu
lainnya yang dipandang normal oleh masyarakat pada umumnya. Ada beberapa
istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan keluarbiasaan yaitu, disabled
secara umum merujuk pada pribadi yang mengalami gangguan fungsional. Impaired
biasanya digunakan untuk menggambarkan deviasi yang berhubungan dengan
pancaindra. Disordered juga sering digunakan untuk merujuk pada problem belajar
atau perilaku sosial. Handicap mengacu pada kesulitan merespons atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Secara umum sifat-sifat khusus pribadi
menyimpang termasuk pada salah satu atau lebih dari kategori berikut: kelainan
sensori, deviasi mental, kelainan komunikasi, ketidakmampuan belajar, perilaku
menyimpang, dan cacat fisik dan kesehatan.
Anak luar biasa dengan kategori
sedang dan berat memerlukan pendidikan individual, pengajaran khusus, dan
penempatan pada program pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa. Faktor
penting yang menjadi fokus perhatian para pendidik adalah upaya membekali anak
luar biasa dengan batas-batas kemampuannya. Melalui program pendidikan terpadu
dimana anak luar biasa belajar memasuki kehidupan yang normal.
Ada beberapa kesulitan dalam
mengestimasi anak luar biasa yaitu kesulitan dalam menentukan jenis-jenis
kelainan yang berkaitan dengan kelaian khusus, masalah yang berhubungan dengan
prosedur evaluasi dan kriteria yang digunakan untuk menentukan eksistensi
kondisi berlainan, tenaga profesional dan biaya yang terbatas dalam menangani
anak luar biasa.Semula ada dua alternatif program pengajaran yang diajukan yaitu:
penyandang cacat memperoleh program pengajaran bersama dengan anak normal
lainnya dengan kekhususan-kekhususan dan program pengajaran khusus pada kelas
khusus atau sekolah khusus.
Secara umum, siswa-siswa yang
melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada pokoknya mengganggu atau merugikan
orang lain maupun dirinya sendiri seiring dideskripsikan sebagai manifestasi
dari penyimpangan perilaku. Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus
maka penyimpangan perilaku didefenisikan sebagai perilaku yang menunjukkan
karakteristik: membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berbeda
dengan standar normalitas,gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun
terhadap orang lain.
Faktor-faktor yang berhubungan
dengan orientasi pendidikan khusus mencakup karakteristik pribadi, kemampuan
guru, dan prevalensi penyimpangan perilaku. Secara umum penyimpangan perilaku
dapat dikelompokkan atas tiga kategori yaitu: konflik lingkungan, gangguan
kepribadian, dan gangguan belajar.
Pada awal abad ke-20 pendidikan bagi
mereka yang mengalami penyimpangan perilaku telah disediakan dalam bentuk
sekolah khusus,meskipun pada awalnya hanya dipandang sebagai kegiatan ekstra
atau sekedar perluasan terapi psikodinamik. Pada 1950-an dan 1960-an seiring
dengan pengaruh model-model modifikasi perilaku dan psiko-edukasional, maka
diterapkan pula kelas-kelas khusus, pusat pelayanan dan pendidikan khusus bagi
mereka yang berperilaku menyimpang. Pada saat yang sama reformis sosial secara
sukses mengkapanyekan upaya meniadakan hukuman penjara dan tindakan kekerasan
lainnya terhadap orang berperilaku menyimpang dengan mendirikan rumah sakit
mental.
Psikologi psikodinamik telah
digunakan sebagai terapi bagi anak dan remaja dengan dua cara. Pertama, terapi
psikoanalisis dan psikodinamik yang lain digunakan sebagai terapi secara
individual atau kelompok pada klinik kesehatan, dan lembaga pendidikan/sekolah.
kedua prinsip-prinsip psikologi psikodinamik telah diadaptasi terutama untuk
keperluan situasi pendidikan.
Faktor-faktor penyebab penyimpangan
perilaku dapat diklasifikasikan atas dua kategori yakni, kondisi biologis yang
terdiri dari faktor hereditas, kerusakan otak, diet atau keadaan nutrisi.
Kondisi psikologis adalah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya
penyimpangan perilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan
keluarga, masyarakat atau faktor dari individu itu sendiri. Interaksi kondisi
biologis dan psikologi merupakan faktor yang lebih kompleks sebagai penyebab
perilaku menyimpang.
Perilaku menyimpang menurut kategori
DSM-III meliputi, retardasi mental, defisit perhatian, gangguan perilaku nyata,
kecemasan, nervosa anoreksia, autisme, penyimpangan perkembangan spesifik.
Secara umum masalah utama yang dialami siswa berperilaku menyimpang dikelompokkan
atas konflik lingkungan, gangguan kepribadian, dan gangguan belajar.
Karakteristik konflik lingkungan adalah perilaku agresif, hiperativitas dan
ketidakmampuan penyesuaian sosial. Karakteristik kecemasan dan menarik diri
diasosiasikan dengan kategori gangguan pribadi.
Ada tiga metode yang digunakan untuk
menilai perilaku menyimpang yaitu, fungsi-fungsi aktual di dalam situasi
alamiah dilakukan melalui abservasi langsung, dan evaluasi fungsi-fungsi aktual
di dalam situasi yang dimanipulasi.
BAB
V
PROFESIONALISME
GURU: MASALAH DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA
4 kompetensi yang harus dikuasai
oleg guru antara lain: Kompetensi
kepribadian, yaitu kemampuan ersonal yang mencerminkan kepribadian yang
mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
dan berakhlak mulia.
Kompetensi
pedagogis yaitu pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasi belajar, dan pengembangan peserta didik
untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi
profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah
dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap
struktur dan metodologi keilmuannya.
Kompetensi
sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta
didik, da masyarakat sekitar.
Masalah terbesar terakait
pengembangan profesi guru adalah minat dari mahasiswa untuk masuk LPTK,
komitmen guru yang masih rendah, beberapa guru SD bahkan melum meperoleh gelar
sarjana, ada beberapa guru yang kompetensinya tidak sesuai bidang tugasnya,
guru yang kurang bertanggung jawab dalam pelaksanakan keprofesionalannya,
keterbatasan guru dalam mengembangkan keprofesionalisasiannya, dan masalah
lainnya.
Pembinaan guru sebagai tenaga
profesional dapat dilakukan dengan: penerimaan mahasiswa calon guru di LPTK
perlu menggunakan alat seleksi yang memungkinkan diperolehnya calon guru yang
berbakat dan berminat, pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial guru,
pengembangan kompetensi pedagogis dan profesional guru.
BAB
XVI
TEKNIK
PENYUSUNAN SKALA PENGUKURAN
Pengukuran dalam psikologi suatu prosedur
pemberian angka terhadap atribut-atribut psikologi. Jadi, untuk memberikan
gambaran mengenai prestasi belajr, diperlukan pengukuran tentang prestasi
belajar yang akurat. Secara umum ada tiga macam instrumen yang paling sering
dipai dalam penelitian ilmiah yaitu angket, tes, dan skala nilai. Angket
digunakan untuk menilai keadaan pribadi orang lain, tes digunakan untuk
mengungkapkan keadaan ribadi orang lain, dan skala nilai digunakan untuk
menilai keadaan pribadi orang lain.
Selanjutnya Ancok menjelaskan ada
tiga cara ubtuk mengoperasikan suatu konsep, yakni: pertama mencari
defenisi-defenisi tentang konsep yang akan dioperasikan. Kedua kalau sekiranya
dalam literatur tidak diperoleh defenisi konsep yang kita ukur maka kita harus
mendefenisikan sendiri menggunakan pemikiran rasional. Ketiga menanyakan
langsung kepada responden.
Ada tiga syarat utama yang harus
dimiliki oleh suatu instrumen penelitian yaitu: kesahihan atau validitas,
keandalan, dan ketelitian. Kesahihan atau validitas ialah indeks yang
menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang perlu
diukur. Secara umum validitas instrumen mencakup validitas isi butir, validitas
konstruksi dan validitas butir.
Reabilitas atau keanadalan adalah
indeks yang digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu alat pengukur dapat
dipercaya atau dapat diandalkan. Reabilitas menunjukkan sejauh mana hasil
pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan alat pengukur
yang sama.
Pada dasarnya ada dua cara yang
dapat ditempuh untuk menguji tingkat keandalan instrumen yaitu melalui alat
ukur ulang dan melalui ukur sekali. Cara yang paling banyak digunakan untuk
mengetahui validitas butir suatu alat pengukur ialah dengan cara mengorelasikan
antara skor yang diperoleh pada masing-masing butir dengan skor total pada
setiap faktor dari suatu alat pengukur. Selanjutnya analisis putaran kedua
dilakukan untuk mencari korelasi antara butir dengan faktor yang sudah
dikurangi dengan butir yang tidak sahihsekaligus mencari reliabilitas butir
jawaban dalam tiap-tiap faktor maupun secara keseluruhan.
BAB
III
PEMBAHASAN
Keunggulan
Buku
1. Daftar
isi dan daftar pustaka disusun secara rapi di setiap akhir bab sehingga
memudahkan pembaca jika ingin mencari buku.
2.
Isi buku
diambil dari teori-teori para ahli dan pengetahuan dari penulis dengan fakta
yang ada. Sehingga pembaca lebih mudah mencari informasi dari daftar rujukan.
3. Buku
ini sangat relevan untuk digunakan sebagai panduan bagipara calon gurudan guru karena
buku ini menjelaskan bagaimana arah pendidikan yang sebenarnya diharapkan dalam
pembangunan untuk kemajuan bangsa Indonesia.
4. Buku
ini memberikan beberapa pertanyaan di bagian akhir tiap bab sehingga pembaca
bisa mengukur sendiri sejauh mana sebenarnya ia telah memahami buku ini.
KEUNGGULAN BUKU INI DIBANDINGKAN
BUKU KARANGAN PROF.DR.H.DJAALI
1. Buku
pembanding tidak memiliki rangkuman di akhir setiap bab seperti buku utama.
Buku pembanding juga tidak memiliki pertanyaan di akhir bab untuk membantu
pembaca mengukur sejauh mana pengetahuannya.
2. Tahap
perkembangan menurut beberapa teori di buku utama lebih banyak dibandingkan di
buku pembanding. Dibuku utama dijelaskkan 4 teori mengenai perkembangan
sedangkan di buku pembanding hanya dijelaskan 2 teori itupun langsung pada
ahlinya.
3. Mengenai
pembahasan perkembangan remaja buku utama lebih dalam membahas topik ini
dibandingkan buku pembanding. Buku utama hanya menjelaskan mengenai pengalaman
sosial masa remaja sedangkan buku utama menjelaskan bagaimana perkembangan
fisik, kognitif, emosi, moral, dan sosial remaja itu secara lebih mendalam.
4. Buku
utama menjelaskan mengenai konsep diri dan upaya pengembangannya sedangkan buku
pembanding tidak menyinggung hal ini sama sekali padahal ini termasuk topik
penting dalam psikologi pendidikan.
5. Buku
utama juga menyajikan mengenai siswa berkebutuhan khusus serta menjelaskan
bagaimana perilaku dari siswa yang membutuhkan kebutuhan khusus itu, sedangkan
di buku pembanding tidak ada disinggung sama sekali.
KEUNGGULAN BUKU UTAMA DIBADINGKAN
BUKU KARANGAN DRS. SUMADI SURYABRATA
1. Teori
perkembangan individu lebih luas dibahas buku utama dengan menjelaskan teori
psikodinamika, teori bilogis, teori orientasi lingkungan, teori
interaksionisme. Sedangkan di buku pemabnding hanya ada teori asosiai, gestalt
dan sosiologis, disini buku utama lebih lengkap.
2. Buku
utama dan buku pembanding sama-sama membahas penilaian hasil-hasil pendidikan
hanya saja buku utama lebih unggul karena buku utama memberikan contoh
penelitian itu beserta data-datanya sehingga topik ini akan lebih mudah
dimengerti jika digunakan buku utama ini sebagai panduan.
3. Buku
pembanding lebih terfokus pada masa anak-anak sedangkan buku utama terfokus
pada masa remaja yang umumnya memang remaja yang sulit memahaminya karena pada
usia remaja memang usia peralihan dari anak-anak menjadi dewasa.
Kelemahan
Buku
1. Pokok
bahasan dalam buku ini kadang sudah terlalu jauh dari judul,artinya banyak
pokok bahasan yang sudah tidak seharusnya dibahas dalam suatu judul jadi ikut
dibahas sehingga membuat pembaca menjadi bingung.
2. Bahasa
yang digunakan di buku ini banyak yang sulit dimengerti dan ada juga yang
kadang terkesan bertele-tele
KELEMAHAN BUKU UTAMA DIBANDINGKAN
BUKU KARANGAN PROF.DR.H.DJAALI
1. Bahasan
mengenai tugas-tugas perkembangan di buku utama lebih terfokus ke tugas
perkembangan anak-anak sedangkan di buku pembanding tugas-tugas perkembangan
ini lebih luas lagi dengan pembahasan tugas perkembangan di setiap tahap usia.
2. Buku
utama membahas perkembangan sosial, fisik, bahasa dan kognitif tanpa membas
perkembangan karakter padahal dalam psikologi pendidikan karakter adalah salah
satu topik yang utama sedangkan di buku pembanding topik ini dibahas bahkan
lebih mendalam dalam satu bab.
3. Buku
utama tidak membahas mengenai psikologi kepribadian yang sebenarnya penting
juga untuk mempelajarinya bagi seorang guru, sedangkan di buku pembanding
psikologi kepribadian topik ini bahkan
dibahas dengan lebih mendalam dalam satu bab.
KELEMAHAN BUKU UTAMA DIBANDINGKAN
BUKU KARANGAN DRS. SUMADI SURYABRATA
1. Buku
pembanding membahas pengantar psikologi secara lebih luas dengan menjelaskan
pengertian psikologi, fantasi, ingatan, berpikir, perasaan, dan motif-motif
sedangkan buku utama hanya menjelaskan pengertian dan pentingnya psikologi
sebagai pengantar psikologi
2. Buku
utama tidak membahas mengenai psikologi kepribadian yang sebenarnya penting
juga untuk mempelajarinya bagi seorang guru, sedangkan di buku pembanding
psikologi kepribadian topik ini bahkan
dibahas dengan lebih mendalam dalam satu bab.
BAB
IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pada hakikatnya inti
persoalan psikologi pendidikan terletak pada anak didik, sebab pendidikan
adalah perlakuan terhadap anak didik yang secara psikologis perlakuan tersebut
harus selaras dengan keadaan anak didik. Dengan demikian permasalahan
psikologis yang berperan dalam proses pendidikan anak dapat terjawab apabila
pendidik dapat memberikan bantuan kepada anak didik agar berkembang secara
wajar melalui bimbingan, pemberaian bahan ajar yang berstruktur dan
berkualitas. Kemampuan pendidik harus mampu mengenal hukum-hukum psikologis
mengenai anak pada mumnya.
Buku
karangan Prof. Dr. Syamsul Bachri Thalib, M. Si yang berjudulPsikologi Pendidikanini secara keseluruhan sudah lengkap
dan cocok dijadikan panduan bagi para calon guru dan guru. Dibandingkan buku
lain yaitu buku karangan Drs. Sumadi Suryabrata dan Prof. Dr. H. Djaali buku
ini sedikit lebih lengkap walaupun ada juga beberapa topik bahasan dalam buku
pembanding yang tidak dimuat dalam buku ini.
Dari segi isi buku ini sebenarnya
sudah merangkum beberapa materi dengan lebih sederhana agar mudah dimengerti
oleh pembaca.Setiap topik bahasan dalam buku ini juga dijelaskan secara lebih
mendalam. Jadi walau memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan menurut saya
secara keseluruhan buku ini sudah sangat bagus dan lengkap.
Saran
Secara keseluruhan buku ini sangat
relevan digunakan oleh guru dan calon guru karena bahasan psikologi pendidikan yang
sangat mendalam dan mudah di mengerti namun, buku ini juga memiliki kelemahan
seperti pokok bahasan mengenai konsep Psikologi Kepribadian yang tidak dibahas
dalam buku ini sementara ada dalam buku pembanding. Penulis menyarankan jika
memakai buku ini sebaiknya ada juga buku lain yang memuat bahasan yang tidak
ada dalam buku ini sehingga materi pembaca mengenai psikologi pendidikan lebih
lengkap lagi.
Daftar
Pustaka
Prof.
Dr. Bachri Syamsul. 2013. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenadamedia.
SILAHKAN KLIK DISINI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar